Masakan Ndeso Berbumbu Kenangan

MENGUNJUNGI Gunung Kidul terasa hambar jika tak menyantap masakan ala
"ndeso". Sayur kembang gedang, olahan tunas bambu, hingga oyok-oyok
lembayung tidak hanya menjanjikan kelezatan, tetapi juga menyuguhkan
putaran kenangan masa silam.

Ibarat kenangan indah yang tak ingin dilupakan, demikian rasa olahan
masakan di warung yang dikelola Hartono di Dusun Jeruk, Wonosari,
Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, warung ini
menyajikan lebih dari 30 macam sayur dan 20 macam lauk-pauk.

Hartono dan adiknya, Mbak Sri, selalu menyambut pengunjung warung
dengan ramah. Mereka segera membukakan penghangat nasi yang masih
mengepulkan uap panas. Nasi di warung ini istimewa karena diliwet
terlebih dulu di kompor sebelum dicemplungkan ke wadah penghangat
nasi.

Butuh waktu cukup lama untuk menentukan pilihan menu makanan ketika
sepiring nasi rojolele sudah ada di tangan. Baskom-baskom besar yang
dijajar di etalase berisi sayur yang masih panas beruap menggoda untuk
dicicipi satu per satu. Pilihan kali ini akhirnya tetap jatuh pada
sayur favorit, kembang gedang.

Sayur yang dulunya hanya bisa disantap dari dapur simbah-simbah di
pedesaan itu kini telah tersaji di meja. Kuah santannya yang bening
kecoklatan mirip dengan sayur lodeh. Rasa gurih tumisan bumbu kemiri,
bawang merah, bawang putih, dan cabai berpadu dengan racikan bunga
pisang, daun labu, dan kacang polong.

Diolah dengan cara yang hampir serupa dengan sayur kembang gedang,
sayur klompong dari batang talas tak kalah menggoda. Batang talas yang
telah berubah warna menjadi kecoklatan dan dipotong kecil-kecil terasa
segar dan gurih dalam kuah santan.

Santapan khas yang hanya bisa ditemui di Gunung Kidul lainnya adalah
sayur lombok ijo. Terdiri dari potongan cabai hijau dan irisan tempe,
sayur lombok ijo disajikan berteman nasi merah dan daging empal sapi.

Tempe kedelai yang digunakan adalah tempe tradisional buntelan yang
dibungkus daun jati dan daun pisang. "Kami punya resep rahasia
sehingga rasa sayur lombok ijo ini istimewa," kata Hartono.

Beragam lauk-pauk yang disajikan juga dijamin membuat ketagihan.
Selain tempe kedelai, pengunjung bisa mencomot gorengan tempe gembus
atau tempe benguk. Ikan wader goreng tepung, gorengan ayam kampung,
ataupun sate telur puyuh sungguh sayang untuk dilewatkan.

Belalang goreng

Di musim tertentu, pengunjung dimanjakan dengan sajian kuliner unik
berupa kudapan belalang goreng atau kepompong ulat daun jati. Saking
banyaknya peminat, baik belalang goreng maupun kepompong ulat daun
jati, selalu ludes terjual.

Belalang yang dikenal sebagai hama tanaman pertanian justru diburu
sebagai makanan favorit. Hartono biasanya membeli bahan baku belalang
dari hasil tangkapan petani di kebun-kebun jati. Selain di warung
Hartono, rentengan belalang yang masih hidup banyak dijual di tepi
jalan raya di Gunung Kidul.

Bagi mereka yang tak terbiasa menyantap belalang harus sangat
hati-hati karena gejala alergi seperti gatal-gatal bisa muncul dengan
cepat. Sebelum digoreng, belalang sebaiknya direndam dalam bumbu lalu
dibacem sehingga muncul rasa manis dan gurih.

Tingginya permintaan belalang goreng membuat harganya meroket tinggi,
terutama pada musim libur ketika wisatawan berdatangan dan para
perantau pulang ke kampung halaman. Harga satu stoples belalang
berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 dan bisa naik hingga 2-3 kali lipat pada
saat Lebaran.

Sebelum populer sebagai kudapan eksotis kaya protein, belalang dulunya
hanya disantap oleh warga miskin yang terbekap lapar dan menjadikan
belalang sebagai lauk enak yang dengan mudah ditangkap dari alam.
Kini, harga belalang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga daging
ayam potong.

Jika helai daun muda pohon jati mulai muncul selepas meranggas,
kepompong ulat menjadi menu kaya protein bagi warga. Ulat jati yang
telah menjadi kepompong merambat turun untuk bersembunyi di tanah
dengan juluran serupa tali temali.

Untuk memanen kepompong ulat jati, warga harus memulai perburuan
sebelum matahari terbit atau sebelum kepompong bersembunyi di tanah.
Kepompong ulat jati yang sudah dibumbui dan digoreng bisa menjadi
teman bersantap nasi nan gurih. Kepompong ini terasa kriuk di bagian
pembungkusnya dan lembut di dalam.

Kenangan akan masakan ndeso dari era serba susah itu yang justru kini
menjadi andalan warung Hartono. Arus wisatawan yang makin deras
berdatangan ke Gunung Kidul semakin menambah tingginya minat terhadap
masakan ala pedesaan.

Setiap hari Hartono bisa menghabiskan setengah kuintal beras. Ia
pernah kewalahan ketika warungnya tiba-tiba diserbu wisatawan yang
datang menggunakan bus-bus besar. Selain pelanggan harian yang
didominansi ibu rumah tangga dan pegawai negeri sipil, Hartono mulai
menjalin kerja sama dengan biro-biro wisata.

Wisatawan dari Madura, Bandung, Ponorogo, dan Jakarta biasanya akan
mampir ke warung Hartono sebelum melanjutkan perjalanan ke
pantai-pantai nan indah di wilayah selatan Gunung Kidul. Destinasi
wisata baru, seperti Goa Pindul dan Gunung Api Purba Nglanggeran, juga
menambah semakin ramainya warung Hartono.

Seporsi makan kenyang di warung ini dihargai cukup murah, yaitu
sekitar Rp 15.000 untuk nasi dengan sayur ndeso dan lauk ayam plus
minum. Buka pukul 06.00 hingga pukul 16.00, sembilan pegawai
terus-menerus mengolah aneka masakan, mulai dari pukul 03.30 hingga
sore hari.

Warung yang terletak berdekatan dengan RSUD Wonosari ini juga
menyajikan minuman andalan, yakni teh poci dengan gula batu. Jika
ingin mencicipi rasa minuman yang lebih tradisional, cobalah jus daun
salam, jus buah kesemek, ataupun jus mengkudu. Olahan warung ndeso ini
menambah deretan kenangan manis di Gunung Kidul.... Ehm! (Mawar
Kusuma)

0 comments:

Post a Comment

Berbagi Cerita Makan

Powered by Blogger.