So-maek" dan "Chi-maek", Menu "Gaul" di Korea Selatan

Kebanyakan orang Korea Selatan, terutama para pria, dikenal gemar
"minum" dan punya tradisi panjang soal minuman beralkohol. Bagi
mereka, minum alkohol dianggap biasa dalam konteks pergaulan, terutama
untuk mengakrabkan diri antara sesama teman dan rekan kerja.

Ada banyak jenis minuman beralkohol, mulai dari yang kandungannya di
bawah lima persen, macam soju atau makgeolli, hingga yang kadarnya
mencapai 20 sampai 45 persen, macam jeonju leegangju, munbaeju, atau
andong soju.

Dari kebiasaan minum itu juga muncul sejumlah istilah dan perilaku
minum, yang identik dengan pergaulan. Sebut saja macam chi-maek,
kependekan chicken-maekju, menu berisi ayam goreng dan bir. Istilah
itu merujuk kebiasaan minum bir berteman ayam goreng.

Ada banyak kedai chi-maek bertebaran, setidaknya di semua sudut ibu
kota Seoul. Juga ada berbagai macam restoran ayam goreng terkenal,
yang popularitasnya bahkan mengalahkan restoran cepat saji asal Negeri
Paman Sam.

Selain terminologi chi-maek, juga dikenal istilah so-maek, alias
oplosan soju dan bir. Kalangan anak muda, terutama para mahasiswa,
gemar menikmati minuman campuran itu, terutama seusai ujian. Mereka
bahkan punya "resep" campuran sesuai selera masing-masing.

Baik bir maupun soju, keduanya memang dapat dengan mudah dibeli di
berbagai minimarket kecil, yang bertebaran di hampir setiap 100 meter
di kawasan permukiman. Walau tujuannya untuk sekadar meluweskan
pergaulan, tak urung kebiasaan minum alkohol kerap memicu masalah,
terutama di kalangan rumah tangga.

Meski begitu, aturan hukum yang diterapkan terbilang tegas. Seseorang
tak boleh membawa kendaraan setelah menenggak minuman keras, terutama
soju. Batas maksimal untuk bisa mengemudi setelah menenggak minuman
keras adalah tiga sloki kecil. Hukuman keras dan denda tinggi menanti
mereka yang nekat dan kedapatan melanggar.

Ketatnya aturan soal konsumsi alkohol ini pun memunculkan jasa sopir
panggilan, yang dibayar untuk membawakan mobil dan mengantarkan "si
pemabuk" hingga selamat sampai rumahnya. "Tapi ongkosnya mahal," ujar
Christina, pemandu wisata yang adalah warga Seoul.

Ongkos sopir panggilan itu, sebut Christina, minimal 30 dollar AS
untuk satu kali jemput dan antar sampai ke rumah. "Saya selalu marah
kalau suami pulang diantar sopir panggilan itu. Dia menghabiskan uang
yang besar hanya karena menuruti ajakan minum teman-teman kantornya,"
gerutunya.

Pemandangan orang mabuk di jalan-jalan atau angkutan umum macam kereta
api bawah tanah (subway), terutama di akhir pekan, adalah fenomena
yang biasa terlihat selama Kompas berada di Seoul, dua bulan terakhir.

Pada poster-poster dan bahkan tayangan pemberitahuan di layar televisi
yang terpasang di stasiun-stasiun ataupun KA bawah tanah juga
diingatkan bahayanya mabuk di tempat umum tanpa didampingi teman atau
orang kepercayaan. Mereka bukan tidak mungkin celaka, seperti terjatuh
dari tangga berjalan dari dan menuju terowongan bawah tanah atau
bahkan terjepit pintu KA.

Dalam ilustrasi di poster-poster peringatan itu, para pemabuk
digambarkan dengan karikatur kepiting atau gurita, yang mencekal botol
minuman. Kenapa kepiting atau gurita? Konon menurut orang Korea, kedua
hewan air itu bergerak atau berjalan tak beraturan layaknya orang
mabuk.
Editor : Palupi Annisa Auliani

0 comments:

Post a Comment

Berbagi Cerita Makan

Powered by Blogger.