Dari kisah di balik sepiring hidangan memang kerap mengalir cerita
sukacita tentang peradaban sejumlah suku dan bangsa dalam berbagi dan
saling memberi untuk kelezatan cita rasa sebagaimana terjadi di Ampel,
Surabaya. Namun, dari kisah di balik beragam sajian hasil laut Selat
Madura pula, kami kembali mendapati kisah buram kehidupan para
nelayan.
Melimpahnya hasil laut, begitu pula kelezatan yang dipersembahkannya,
tak juga membawa kemakmuran bagi para nelayannya. Dalam gubuk yang
menjadi dapurnya, tangan keriput Jatimah (65) menata kayu perapian
tungku tempat sewajan lorjuk (binatang karang laut bercangkang yang
gurih) yang tengah direbusnya hidup-hidup. Satu demi satu lorjuk
berukuran panjang 3 sentimeter itu menggeliat bak ulat demi melepaskan
diri dari cangkang silindernya yang kian panas.
Sesekali Jatimah yang hanya bisa berbahasa Madura mengangguk-anggukkan
kepala seolah mengerti kegaduhan tamu-tamu di dapurnya membicarakan
betapa mahalnya lorjuk. Ia tertawa setelah tahu yang diobrolkan adalah
betapa besar keuntungan nelayan lorjuk karena harga lorjuk siap santap
di Surabaya kerap mencapai Rp 250.000 per kilogram.
Dengan sabar, Jatimah bercerita bagaimana pada Jumat (23/8/2013) subuh
itu ia berjalan kaki 3 kilometer ke pantai demi mencari binatang yang
seukuran kelingking anak-anak itu. Ia, juga puluhan perempuan lain di
Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, harus berkejaran dengan
siklus pasang surut, juga cuaca buruk yang bisa tiba-tiba membatalkan
perburuan lorjuk.
"Lorjuk hanya bisa dicari di balik batu dan pasir dasar laut yang
surut. Surutnya laut hanya dua-tiga jam, banyak orang bekejaran dengan
waktu untuk mendapatkan dua-tiga mangkuk lorjuk. Untuk menghasilkan 1
kilogram lorjuk kering siap masak, saya harus membeli 40 mangkuk
lorjuk seharga Rp 200.000. Bobot basahnya mungkin 3 kilogram, susut
saat diolah," tutur Jatimah.
Terkejutlah kami mendengar berapa harga jual lorjuk kering mentah
Jatimah. "Rp 200.000," ujarnya tersenyum meyakinkan. "Untung pembuat
lorjuk adalah mendapatkan sekitar setengah liter petis lorjuk yang
bisa dijual seharga Rp 30.000," ujar Jatimah sambil terus menampi
lorjuk hasil rebusan demi membuang cangkang-cangkang lorjuk-nya.
Antropolog Abdul Latif Bustami menyebutkan, kaum nelayan di sepanjang
pesisir Selat Madura hidup dalam nilai moral subsisten (berburu dan
meramu, cara hidup yang sepenuhnya bergantung pada hasil alam). Mereka
yang menjalani nilai moral subsisten tidak mendasarkan pada hitungan
untung-rugi sebagai motif tindakannya.
"Jika melongok kehidupan nelayan, kita akan mendapati jamaknya
tindakan yang menyerupai tindakan ekonomi, tetapi hitung-hitungan
ekonominya tidak dapat dinalar. Kaum nelayan yang subsisten
bersama-sama bekerja untuk menjalani hidupnya, bersama-sama membangun
jaring pengaman kehidupan komunalnya. Siapa yang memperoleh banyak
tangkapan selalu ingin berbagi demi mengamankan hari lain kala
peruntungannya buruk. Tiap-tiap dari mereka mengambil keuntungan
seperlunya dari kelompoknya," kata Bustami.
.
Lewat tengah hari, Jatimah yang selesai menampi lorjuk-nya kembali ke
dapur dan mulai mengaduk sisa air rebusan lorjuk yang kian mengental.
Tangan keriputnya terus mengaduk pelan, ditemani bara api yang kian
meredup di tungkunya, menunggu sisa air rebusan lorjuk-nya mengental
menjadi petis. Hari-hari selalu berbeda, tetapi pada tiap-tiapnya
Jatimah menapaki jalan hidup dengan kebersahajaan yang sama.
Selat Madura melimpahkan kelezatan, tetapi tak kunjung melimpahkan
kemakmuran bagi orang-orang kecil yang menjadi "mata air" kelezatan
santapan pesisir Selat Madura. Nasib para nelayan Selat Madura adalah
potret kecil lain dari muramnya nasib nelayan di negeri yang tiga
perempat luas wilayahnya adalah lautan kaya ini. (Aryo Wisanggeni
Genthong dan Ingki Rinaldi)
Santapan Madura, Hari Berbeda, Laku Serupa
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment