URUSAN pangan sedikit banyak terjawab oleh perdagangan beragam
komoditas untuk membiayai pembelian kekurangan bahan pangan di Madura.
Namun, problem kepadatan penduduk tak lantas selesai dengan
mendatangkan pangan dari Jawa. Kepadatan penduduk yang memangkas
peluang memperbaiki nasib di Madura dijawab dengan cara lain. Merantau
dengan melintasi Selat Madura!
Saleh (77) tak lagi ingat tahun berapa umurnya saat meninggalkan
kampungnya di Batu Putih, Sumenep. Yang diingatnya, ia berangkat
merantau setelah Jepang—yang selama pendudukannya melarang migrasi
orang dari Madura—angkat kaki dari Indonesia.
"Saya seorang diri pergi ke Kali Anget, Sumenep, berbekal uang Rp 10.
Saat itu, perahu kayu yang saya tumpangi sesak oleh lebih dari 75
penumpang. Setelah perjalanan semalaman, perahu layar tanpa mesin itu
tiba di Panarukan, dan melanjutkan perjalanan ke Situbondo," kata
Saleh soal kisahnya mengadu nasib di pesisir utara Pulau Jawa itu.
Dengan menumpang di rumah pamannya, Saleh bertahan hidup dengan
bekerja serabutan, mulai dari tukang batu sampai menjadi anak buah
kapal di perahu-perahu pencari ikan. Tahun 1961, ia dijodohkan dengan
Mirati, gadis 12 tahun yang lahir di Panarukan, tetapi ternyata
berasal-usul dari Desa Larangan Kerta, tetangga Desa Batu Putih.
"Saya waktu itu masih kelas V SD. Begitu lulus SD, tahun 1962, kami
dinikahkan. Tiga tahun kemudian lahir anak pertama kami," tutur Mirati
(64) mengenang masa mudanya.
Saleh tertawa mengenang masa mudanya. "Sesudah anak kedua kami cukup
besar, saya lupa persisnya tahun berapa, kami sekeluarga pulang ke
Sumenep. Itu sudah belasan tahun sejak merantau. Kalau orang Madura
bilang, Oreng mate e poles (ibaratnya orang mati tiba-tiba hidup
kembali gara-gara dibedaki). Gegerlah keluarga di rumah," ujar Saleh
tertawa.
Pasangan itulah pemilik Warung Nasi Pak Saleh di Jalan Mawar,
Situbondo. "Masakan di sini masakan rumahan, seperti nasi jagung,
sayur kelor, dan ikan kuah asam dengan bumbu kella celok. Masakan Jawa
juga ada, rawon, lodeh, nasi campur. Arah rasanya ya arah rasa Madura,
asin. Kebanyakan orang Situbondo kan keturunan orang Madura," kata
Mirati tertawa.
Sejarah migrasi orang Madura melintasi Madura memiliki sejarah jauh
lebih tua ketimbang kisah perjalanan Saleh yang mencoba peruntungan
hidup di Situbondo. Hubb de Jonge menyebutkan, sejak pertengahan abad
ke-18 terdapat 833.000 orang Madura yang tinggal di Jawa Timur, dua
kali lipat dari jumlah penduduk Madura. Pada tahun 1930, hampir
sekitar 2,5 juta orang Madura bertempat tinggal di luar Madura dan
sebagian besar tinggal di Jawa Timur. Mereka menemukan pantai Jawa di
sepanjang Selat Madura serupa dengan alam Madura.
"Seolah Selat Madura ini merupakan teluk bagi daerah kebudayaan
Madura.... Sebagian besar dari Jawa Timur dibuka dan diusahakan orang
Madura. Bagian terbesar dari penduduk pantai utara Jawa Timur berasal
dari Madura, dan kira-kira sepertiga penduduk Surabaya dan Gresik
berketurunan Madura," tulis De Jonge dalam buku Madura dalam Empat
Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam.
Abdul Latif Bustami menyebutkan, migrasi orang Madura ke pesisir utara
Jawa dengan melintasi Selat Madura memiliki sejarah panjang. Bustami
menyebut Prasasti Kudadu (1294) yang mengisahkan bagaimana Narariya
Madura Adipati Wiraraja, raja Songenep (sekarang bernama Sumenep),
membantu Raden Wijaya menghancurkan Jayakatwang dari Kerajaan
Gelang-gelang (Kediri) dan tentara Tartar.
"Orang-orang Madura membantu pembukaan Hutan Tarik, cikal bakal
Kerajaan Majapahit. Itu bukti panjangnya sejarah migrasi orang Madura
ke Jawa. Selat Madura dilintasi karena hingga abad ke-18 tidak ada
jalan yang memadai di Madura. Selat Madura adalah rute termudah menuju
Jawa," kata Bustami.
Migrasi orang Madura melalui Selat Madura kerap menempuh jalur
pelayaran terpendek sehingga kantong-kantong permukiman orang Madura
di pesisir Jawa bisanya langsung berseberangan dengan kampung asal
mereka. Hari ini, kantong-kantong itu menjadi sejumlah kota di pesisir
utara Jawa, seperti Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso.
"Kita bisa melacak bahwa orang Sumenep banyak bermukim di kota-kota
yang berhadapan langsung dengan Sumenep, seperti Situbondo, Bondowoso,
dan bagian utara Banyuwangi. Orang Probolinggo banyak yang bermigrasi
ke Pamekasan. Pasuruan banyak menjadi tujuan orang Bangkalan dan
Sampang. Gelombang migrasi terbesar terjadi saat Belanda membuka
perkebunan beragam komoditas di Jawa Timur pada abad ke-17 dan ke-18,"
kata Bustami.
Bukan hanya Mirati yang mewarisi ragam cara memasak Madura. Di
Situbondo kami juga singgah di Kaldu Olehan yang berada di dekat
Pabrik Gula Olehan. Kaldu racikan Hajah Hasanah itu berkuah lebih
cair, hanya memiliki sedikit kacang hijau di kuahnya yang penuh
potongan daging sapi. "Di Situbondo, orang tidak gemar memakan kaldu
dengan bubur kacang hijau yang kental," tutur Hajah Hasanah.
Warung Tolak Sariani (58) menyajikan beragam menu yang berhulu dari
tradisi kuliner Madura dan Jawa. Ia menjual tahu campur populer di
Surabaya, juga rujak petis yang lezat oleh petis udang. Di Jalan Raya
Gending, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, kami bertandang ke
warung nasi jagung Sumiati (43) menyantap nasi jagung dan ikan benggol
berbumbu kella celok.
"Semua masakan saya memang memakai bumbu Madura karena kebanyakan
warga di Gending keturunan orang Madura. Semua masakan itu diajarkan
ibu saya. Sehari-hari kami berbahasa Madura, belajar masak pun dengan
belajar bumbu masakan Madura, seperti pellapa gene' dan beragam
varian, seperti kella celok ataupun kella pateh," tutur Sumiati.
Namun, arus perpindahan orang di sepanjang Selat Madura bukan melulu
migrasi orang dari Madura ke pesisir utara Jawa. Orang Madura dikenal
dengan tradisi "toron", atau tradisi pulang ke kampungnya di Madura
setiap hari raya Idul Fitri. Anak-cucu dari generasi lampau yang
bermigrasi keluar Madura pun kerap kali masih memelihara hubungan
dengan kampung asalnya.
Para pekerja musiman banyak yang menghabiskan musim kemarau di Jawa,
lalu pulang ke Madura di musim penghujan yang singkat. Tak hanya itu,
banyak pula orang Jawa yang bermigrasi ke Madura karena bekerja,
menuntut ilmu agama di sejumlah pondok pesantren tua di Madura,
ataupun karena menikahi orang Madura.
Karena itu, jejak kuliner Jawa pun bisa ditemukan di Madura, dengan
pelokalan rasa yang kerap kali mengejutkan. Ya, masih teringat rasanya
saat mencicipi rawon khas Madura di Rumah Makan 17 Agustus, Sumenep.
Rawon merah tak berbumbu kluwak yang tak kalah sedapnya.
Pemilik Rumah Makan 17 Agustus di Sumenep, Edi Setiawan, menyebutkan,
rawon beningnya bersiasat dengan alam. "Jika tidak ada kluwak, tidak
harus berbumbu kluwak. Rawon dengan kluwak sudah pasti masakan Jawa.
Di rumah makan kami, warna merahnya lebih kuat karena bumbu cabai,
memang dipengaruhi budaya kuliner peranakan," kata Edi, peranakan
Tionghoa yang juga budayawan Sumenep itu.
Itu mengapa FX Sutjipto menyebutkan Selat Madura laut keluarga. Selat
Madura menjadi hulu cita rasa, bukan karena menjadi sumber dari
beragam bahan pangan yang melimpah. Selat Madura menjadi hulu cita
rasa karena menjadi penyilang budaya kuliner Madura dan Jawa, yang
bersua lagi dengan beragam-ragam budaya di kota bandar besar di mulut
"corong" Selat Madura, Surabaya. (Aryo Wisanggeni Genthong dan Ingki
Rinaldi)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment